Mengintip Pembuatan Keris Pusaka di Kademangan Blitar

Empu Mujiono menunjukkan keris buatanya.(Foto : Team BlitarTIMES)
Empu Mujiono menunjukkan keris buatanya.(Foto : Team BlitarTIMES)

TUBANTIMES, BLITAR – Keris sudah lama dikenal sebagai salah satu identitas masyarakat Nusantara yang hingga kini masih banyak dilestarikan. Di Jawa, perkembangan ilmu pembuatan keris, ilmu pengolahan pamor hingga pemahaman makna filosofi keris dari masa ke masa berkembang maju, sampai pada masa kerajaan Singosari, Majapahit dan Mataram Islam, bahkan sampai sekarang.

Keris selain berfungsi sebagai sebuah benda pusaka, saat ini banyak yang menjadikannya koleksi, hiasan di rumah, hingga perlengkapan pakaian jawa, hingga ritual adat kejawen.

Salah satu empu yang masih mempertahankan pembuatan keris secara baik, yakni Empu Mujiono (68). Ia tinggal di Dusun Krajan, RT.03/RW.02 Desa Kademangan, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

“Sejak kecil saya sudah punya bakat di bidang keris, juga keturunan dari mbah saya dulu juga tukang buat keris. Sebelumnya saya membuat keris ada firasat atau feeling, jadi 7 tahun saya itu tidur di luar rumah, kemudian dirituali dengan berpuasa dan dilanjutkan dengan membuat pusaka keris sampai sekarang,” ungkapnya kepada BLITARTIMES, Jumat (11/1/2019).

Dari kecintaannya akan budaya serta bakat leluhur yang sudah diwarisinya Mujiono semakin penasaran, hingga akhirnya terus menggali dan menelisik keunikan keris melalui berbagai sumber dan referensi.

Mudjiono menambahkan, untuk membuat keris banyak sekali proses dan syarat-syarat yang harus di penuhi. Untuk mendapatkan keris yang berkualitas dan memiliki aura mistis, diantaranya dalam memilih hari. Biasanya hari yang dianggap baik untuk memulai pembuatan keris adalah Hari Kamis Kliwon dan Jum’at Legi.

“Mengisi Yoni keris itu diritualii, jadi keris mulai mau di tempa, mulai mau diwiwiti itu di beri kembang, terus besalennya, tiap-tiap bagiannya disiram air kembang. Habis itu diberi dupa, biar diakui sama nenek moyang, istilahnya empunya yang dulu-dulu itu dipamiti, istilahnya kayak terimakasih sama empu terdahulu,” terangnya.

Pria yang dikenal sebagai penerus Empu Omyang Jimbe ini menerangkan, bahan yang digunakan untuk membuat sebilah keris tidak lah sembarang jenis besi. Untuk mendapatkan pamor yang menarik serta memiliki aura kesakralan pada keris, paling tidak dierlukan wesi aji (besi tua).

“Bahannya biasanya wesi aji itu saya menyembunyikan ada 1 ton, terus biasanya pakai nikel, terus juga baja. Nanti itu dibakar, dipande (ditempa), dilipat-lipat sampai mulai kelihatan pamornya, habis itu yang paling rumit mau bentuknya seperti apa, terus diukir,” jelas Mujiono.

Menurutnya, untuk membuat satu bilah keris biasa membutuhkan waktu 3-5 lima hari, namun yang perlu ritual khusus bisa hingga 1 bulan lamanya. Keris buatan Empu Omyang Jimbe ini harganya pun bervariatif, mulai dari harga Rp. 250 hingga ada yang berharga Rp. 5 juta, tergantung lamanya proses dan juga tingkat kesulitannya.

“Tinggal mau bentuk tangguh (gaya zaman dan gaya kedaerahan sebuah keris) mana dulu, bisa tangguh Majapahit, tangguh Mataram, tangguh Segaluh, tangguh Bali, kana da banyak. Kalau pamornya bagus ya harganya juga mahal,” imbuhnya.

Berkat ketekunannya dalam membuat benda pusaka sederet prestasi diperoleh Empu Mudjiono antara lain, Lomba Pembuatan Keris Tingkat Nasional Tahun 2012, di Museum Negeri Mpu Tantular. Selain itu ada penghargaan dari Gubernur Jawa Timur dan juga penghargaan dari LPPBN (Lembaga Pelindung Pelestari Budaya Nusantara) pada Tahun 2015.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]tubantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]tubantimes.com | marketing[at]tubantimes.com
Top