Wagub Emil Dardak Ajak Selami Pancasila melalui Bung Karno

Wagub Jatim Emil Dardak (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Wagub Jatim Emil Dardak (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

TUBANTIMES, MALANG – Tanggal 1 Juni nanti merupakan hari lahir Pancasila. Pancasila dianggap sebagai falsafah untuk menentukan sikap kita dalam keseharian.

Namun, ada yang menganggap bahwa apa yang disampaikan Pancasila adalah nilai-nilai universal yang tidak berpengaruh dan tidak akan membedakan keseharian kita.

Wakil Gubernur Jawa Timur Dr H Emil Elestianto Dardak MSc saat berkunjung ke Malang menyatakan bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar. "Kalau kita mau menyelami Pancasila sebagai sebuah working ideology, ideologi yang bisa kita terapkan, itu sebenarnya ada hal-hal yang sangat konkret yang bisa kita petik di situ," ujarnya saat menjadi keynote speaker di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Malang, Jumat sore (17/5).

Untuk itu, penting untuk menyelami wawasan historis dari Pancasila itu sendiri. Dikatakan Emil, Pancasila sebenarnya berkembang seiring dengan pemikiran-pemikiran yang terjadi di dunia.

"Kita harus memahami diskursus yang terjadi waktu Pancasila itu disusun. Bung Karno baca buku apa saja waktu itu. Dan jangan salah, sebelumnya pun konsep-konsep yang mendekati Pancasila sudah dibacakan oleh beberapa konseptor-konseptor selain Bung Karno," ujarnya.

Ditegaskan Emil, kita perlu memahami rekam jejak bapak-bapak bangsa dulu saat menyusun Pancasila, apa yang menjadi dasar mereka membuat sila-sila tersebut. "Dengan melihat historis, kesejarahan, kita bisa menyelami Pancasila. Kita harus tahu asbabun nuzulnya," tandasnya.

Sama halnya dengan belajar Alquran. Belajar ayat Alquran pun harus tahu asbabun nuzulnya, seperti diturunkannya di mana, surat Makkah atau surat Madinah, dan seterusnya.

"Itu ada ciri khasnya sendiri-sendiri. Apa yang terjadi saat itu, kenapa itu turun," ucapnya.

Seperti halnya memahami ayat Alquran, memahami Pancasila pun harus kontekstual. "Kontekstual, maka tidak bisa tekstual murni," imbuhnya kemudian.

Itulah sebabnya, lanjut Emil, di dalam Nahdlatul Ulama sendiri dipercayai bahwa kiai dan ulamalah yang menjadi rujukan untuk memahami Alquran. "Tidak bisa kita baca sendiri saja. Kita logikakan tanpa mencoba menggali berbagai macam referensi yang ada," kata suami Arumi Bachsin tersebut.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]tubantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]tubantimes.com | marketing[at]tubantimes.com
Top