Angka Pengangguran Turun, Tapi Lulusan Universitas dan Diploma Semakin Banyak Tidak Bekerja

Job fair merupakan salah satu strategi pemerintah untuk meminimalisir angka pengangguran terbuka (Nana)
Job fair merupakan salah satu strategi pemerintah untuk meminimalisir angka pengangguran terbuka (Nana)

TUBANTIMES, MALANG – Tingginya pendidikan ternyata tidak berbanding lurus dengan kesempatan bekerja. Hal ini terlihat dari kenaikan angka pengangguran terbuka yang berasal dari lulusan universitas (perguruan tinggi) dan diploma.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sampai Februari 2019 dengan perbandingan Februari 2017 lalu, terdapat kenaikan pengangguran terbuka dari lulusan universitas dan diploma. Dimana, dari 2017 lalu di kisaran 5 persen naik menjadi 6,2 persen penganggur terbuka dari lulusan universitas. 

Sedangkan, lulusan diploma dari 6,4 persen naik menjadi 6,9 persen penganggur terbuka. Selama rentang 2 tahun yang dijadikan dasar, bahwa lulusan universitas dan diploma semakin banyak yang tidak terserap di dunia usaha.

Walau, secara rata-rata angka pengangguran terbuka turun sampai Februari 2019 yaitu menjadi 5,01 persen. Atau ada pengurangan pengangguran terbuka sebanyak 50 ribu orang. Tapi, dengan jumlah penggangguran terbuka per Februari 2019 sebanyak 6,82 juta orang, disumbang juga dari lulusan universitas dan diploma yang meningkat.

Berbeda dengan lulusan di bawahnya yang mengalami penurunan. BPS mencatat, untuk lulusan SD ke bawah angka pengangguran turun sekitar 25 persen. Diikuti SMP yang juga turun 6 persen dan SMA sederajat 3,6 persen lulusannya yang menganggur turun di awal 2019 ini.

Hal ini dipertegas oleh Kepala BPS Suhariyanto beberapa waktu lalu yang menyatakan, "Ada tren penurunan tingkat pengangguran terbuka sejak Februari 2016. Tapi dilihat dari tingkat pendidikannya lulusan diploma dan universitas makin banyak yang tidak bekerja," ujarnya seperti dilansir katadata.co.id.

Beberapa faktor yang membuat lulusan universitas dan diploma semakin banyak menganggur, masih menurut data BPS, dikarenakan 3 hal. Pertama, keterampilan tidak sesuai kebutuhan dan diikuti ekspektasi penghasilan dan status tinggi yang tidak terjawab dunia usaha. Sedangkan faktor terakhir adalah penyediaan lapangan kerja terbatas dan semakin kompetitif.
Hal ini berbeda dengan lulusan pendidikan di bawahnya. Dimana, para lulusan pendidikan di bawah universitas dan diploma cenderung lebih menerima pekerjaan apa pun. Ini berbeda dengan mereka yang pendidikannya lebih tinggi.

Kondisi tersebut juga sempat disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Malang Sanusi kepada para pendidik di Kabupaten Malang. Dirinya menyampaikan, standar pendidikan saat ini semakin tinggi yang dipicu dengan pesatnya teknologi informasi.
"Sehingga tentunya diperlukan berbagai inovasi dalam dunia pendidikan. Sehingga nantinya lulusan sekolahan bisa menjawab kebutuhan dan tantangan dunia usaha dewasa ini," ujar Sanusi beberapa waktu lalu.
Kesempatan kerja bagi seluruh lulusan lembaga pendidikan pun semakin bergeser dengan adanya revolusi industri 4.0. Dimana, lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase berada di ranah penyediaan akomodasi dan makan minum (0,43 persen poin), perdagangan (0,39 persen poin), dan konstruksi (0,34 persen poin). Sementara lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan utamanya pada pertanian (1,00 persen poin), administrasi pemerintahan (0,23 persen poin); serta informasi dan komunikasi (0,06 persen poin).
Sedang untuk lapangan pekerjaan informal walau mengalami penurunan sebesar 0,95 persen poin selama satu tahun, tapi masih mendominasi pekerjaan formal. Dimana sebanyak 74,08 juta orang (57,27 persen) bekerja pada kegiatan informal. 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]tubantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]tubantimes.com | marketing[at]tubantimes.com
Top