Gelar Halal Bi Halal, Rektor Berharap Unisba Blitar Jadi Jantung Hati Masyarakat

Rektor Unisba Blitar Soebiantoro saat memberikan sambutan dalam acara halal bi halal di Kampus I, Rabu (19/6/2019).(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Rektor Unisba Blitar Soebiantoro saat memberikan sambutan dalam acara halal bi halal di Kampus I, Rabu (19/6/2019).(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

TUBANTIMES, BLITAR – Masih suasana Lebaran Harì Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah, Keluarga besar Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar menggelar acara halal bi halal usai libur Lebaran di Aula serba guna Kampus I Unisba, Jalan Mojopahit Kota Blitar, Rabu (19/6/2019).

Acara halal bi halal tersebut dihadiri Rektor Unisba Blitar Soebiantoro, Pengurus Yayasan dan para wakil Rektor, Dekan, Kaprodi, Dosen serta pejabat struktural lainnya.

Rektor Unisba Blitar, Soebiantoro dalam sambutannya menyatakan momen idul fitri bisa dijadikan momen kembali ke fitrah, kebersamaan dalam bekerja dan menjalankan tugas.

"Acara halal bi halal ini setiap tahun menjadi tradisi rutin di Unisba Blitar, saling bertemu saling memaafkan. Silaturahmi itu penting sekali di sela-sela kita menjalankan tugas. Silaturahmi ini semoga membawa berkah dan semangat bagi kita semua untuk kedepan lebih baik lagi dalam menjalankan tugas dan membesarkan lembaga ini,” ungkap Soebiantoro.

Rektor menambahkan dengan kekompakan dirinya meyakini tujuan dan visi misi dari Unisba Blitar dapat diwujudkan. Dirinya pun mengajak kepada seluruh civitas academica untuk meningkatkan kontribusi bagi Unisba Blitar. Salah satunya dengan menggandeng alumni.

“Dekan dan Kaprodi harus aktif berkomunikasi dengan alumni. Ayo kita ajak alumni untuk ikut membangun kampus tercinta ini. Kita tahu, ada alumni yang berhasil dan ada pula alumni yang kurang beruntung. Alumni harus kita gandeng karena kampus yang besar itu jaringan alumninya luar biasa,” tegasnya.

Lebih dalam Rektor yakin, dengan keterlibatan seluruh komponen civitas academica dan alumni maka kampus Unisba Blitar ini akan semakin besar dan menjadi kebanggaan masyarakat.”Harapan saya Unisba Blitar ini akan menjadi jantung hati masyarakat. Saya berharap akan muncul slogan-slogan saya cinta Unisba, I Love Unisba,” harapnya.

Mengakhiri kata sambutannya, Mantan Sekda Pemkab Blitar mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H, mohon maaf lahir dan batin.

"Bagi bapak-bapak dan ibu-ibu yang merayakan hari raya idul fitri Taqabbalallahu minna wa minkum, kullu am wa antum bikhair. Selamat Hari Raya Idul Fitri l440 H. Mohon maaf lahir batin," pungkasnya

Halal bi halal keluarga besar Unisba Blitar kali ini turut dihadiri Dosen UIN Surabaya yang juga tokoh agama Kota Blitar, KH Abdul Basith. 

Dalam sambuntannya, KH Abdul Basith menjelaskan bahwa halal bihalal merupakan tradisi yang hanya ada di Indonesia. 

Halal bi halal hampir menjadi kegiatan wajib masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim, yang dilakukan pada bulan Syawal.

Istilah itu sendiri merujuk pada kegiatan dimana masyarakat saling mengajukan maaf dan turut memberikan maaf. 

Bentuknya cenderung berbeda di setiap daerah. Ada warga yang singgah dari satu rumah ke rumah lainnya dan ada pula yang dikumpulkan di satu tempat, biasanya disebut open house.

Basith menjelaskan, bertolak dari sejarah, sebenarnya halal bi halal adalah bentuk kepentingan politik Soekarno untuk mencegah perpecahan bangsa. 

Seiring berjalannya waktu, halal bi halal telah menjadi budaya khas Indonesia. Kini, halal bi halal dilakukan oleh setiap elemen masyarakat tanpa mengenal strata sosial, suku, ras, dan agama.

Istilah halal bi halal pertama kali digagas oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Sekitar tahun 1948, disintegrasi bangsa menjadi ancaman terbesar Indonesia. 

Elite politik saling bertengkar, pemberontakan menjamur di banyak daerah, hingga ancaman ideologi komunis. Lebih buruknya, para pemangku kekuasaa yang memiliki beda pandangan enggan duduk bersama di satu forum diskusi.

Pada tahun 1948, bertepatan dengan bulan Ramadan, bapak proklamator bangsa itu memanggil Kiai Wahab ke istana. Sang pemuka agama dimintai pendapat soal cara yang efektif untuk mengatasi situasi bangsa yang tidak kondusif. Alhasil, ulama kelahiran Jawa Timur itu menyarankan Bung Karno untuk menggelar silaturahmi. Mendengar saran tersebut, Soekarno menjawab "Silaturahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain."

Mendengar jawaban Soekarno, Kiai Wahab membalas, "Begini, para elite politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahmi nanti kita pakai istilah halal bi halal."

Setelah mendengar saran tersebut, bersamaan dengan merayakan Idul Fitri, Bung Karno menggelar halal bi halal untuk mengkumpulkan seluruh elite politik. Dan benar saja, setelah berkumpulnya seluruh pemangku kebijakan, babak baru integrasi bangsa dimulai.

“Halal bihalal ini akhirnya jadi budaya bangsa kita. Dengan halal bihalal kita kembali ke fitrah, sehingga kita manusia punya watak tidak seperti hewan, manusia punya norma dan sifat rohman rohim nya Allah. Halal bihalal itu perlu karena manusia tidak ada yang bersih dari salah dan dosa,” kata Abdul Basith.

Dalam kesempatan ini Rektor Unisba Blitar Soebiantoro juga memberikan penghargaan Indonesia Islamic Award yang diterima Unisba dari Kemendiknas RI kepada Ketua LPPAI Unisba Blitar KH Rochmad Khudori. Penghargaan tersebut atas suksesnya Unisba Blitar menggelar Semarak Ramadan 1440 H.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]tubantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]tubantimes.com | marketing[at]tubantimes.com
Top