warga yang menunggu sejak pagi berebut isi buceng dan tumpeng (foto : Joko Pramono/Jatim Times)
warga yang menunggu sejak pagi berebut isi buceng dan tumpeng (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

Masyarakat Tulungagung berebut aneka hasil bumi yang terdapat dalam buceng wadon dan tumpeng lanang. Mereka sudah menunggu sejak pagi di halaman pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso, di Jalan RA Kartini, Senin (18/11/19).

Sebelum diperebutkan, kedua buceng dan tumpeng itu diarak dalam acara Kirab Bersih Nagari memperingati HUT Tulungagung ke 814.

Buceng wadon berisi aneka hasil bumi berupa buah dan sayur, sedang tumpeng lanang berisi nasi kuning, aneka laup pauk dan puluhan ayam ingkung.

Arak-arakan diawali dengan rombongan Forkopimda menggunakan kereta kuda, selanjutnya disusul oleh Kepala OPD dan Anggota DPRD dengan mengendarai becak. Seluruhnya menggunakan pakaian adat jawa berupa Beskap, jarit dan blankon bagi pria, dan berkebaya bagi perempuan.

Lalu disusul arak-arakan pataka lambang daerah Kabupaten Tulungagung dan pengawal pataka. Pataka kemudian diserahkan pada Ketua DPRD Tulungagung, Marsono untuk selanjutnya diserahkan pada Bupari Tulungagung, Maryoto Birowo.

Sesampainya di Pendopo kemudian Tumpeng dan Buceng ini dibawa oleh beberapa pemuda menuju ke bagian tengah Aula pendopo, bersanding dengan beberapa buceng dan tumpeng lainnya dengan ukuran yang lebih kecil.

Selama prosesi bersih nagari berlangsung, Bupati Tulungagung Maryoto Bhirowo dan tamu disuguhi dengan cerita seputar berdirinya Kabupaten Ngrowo yang kemudian berganti menjadi Kabupaten Tulungagung. Berdirinya kabupaten Ngrowo sendiri diungkapkan dalam prasasti Lawadan yang diyakini sudah ada lebih dari 814 tahun yang lalu.

Maryoto berharap dengan usianya yang ke 814, Tulungagung bisa menjadi kabupaten yang makmur dan aman.

"Tulungagung menjadi Kabupaten yang lebih makmur, masyarakatnya lebih makmur dan kondisinya aman," ujar Maryoto.

Usai prosesi bersih nagari kemudian tumpeng lanang dan buceng wadon diarak keluar pendopo untuk diberikan kepada ratusan masyarakat yang sudah menunggu sejak pagi, tak ayal saat mendekati pintu gerbang keluar Pendopo, ratusan warga langsung berebut naik ke atas pick up yang membawa tumpeng dan buceng tersebut.

Dalam sekejap, Tumpeng lanang yang tersusun dari nasi kuning dan lauk pauknya serta buceng wadon yang terdiri dari buah buahan hasil bumi,seperti semangka, jagung, apel, jeruk dan beberapa buah lainnya tersebut ludes diperebutkan warga.

Soni, salah satu warga yang ikut berebut mengaku sejak tahun lalu dirinya rutin mengikuti ritual ini, tahun lalu dirinya dapat ingkung ayam tapi tahun ini dirinya dapat buah semangka.

“Rejekine ini mas, ndak papa yang penting senang bisa ikut berebutan," ujar Soni.

Tidak hanya memperebutkannya untuk dirinya sendiri, kadang dirinya membagi dengan warga lain yang sudah renta dan tidak bisa naik ke atas pick up.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Dwi, dirinya rela berdesak desakan hingga sandalnya putus untuk bisa memperebutkan buah dan lauk pauk di tumpeng lanang.