Kepala Seksi Penyuluhan dan Pelayanan Informasi Bebas Cukai Malang Surjaningsih saat memberikan materi kepada peserta (Nana)
Kepala Seksi Penyuluhan dan Pelayanan Informasi Bebas Cukai Malang Surjaningsih saat memberikan materi kepada peserta (Nana)

Jumlah penindakan bea cukai yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melalui kantor pelayanan dan pengawasan bea cukai tipe madya cukai Malang, di tahun 2019 terbilang turun dibandingkan tahun lalunya.

Dimana, di tahun 2018 terdapat penindakan di wilayah Malang Raya sebanyak 195 kasus. Turun di tahun 2019 sampai September menjadi 191 penindakan atas barang kena cukai.

Turunnya angka penindakan terhadap barang kena cukai disampaikan oleh Kepala Seksi Penyuluhan dan Pelayanan Informasi Bebas Cukai Malang Surjaningsih, dalam acara sosialisasi ketentuan di bidang cukai bagi aparat kecamatan dan perangkat desa se-eks wilayah pembantu Bupati di Kepanjen, Selasa (19/11/2019).

"Per September penindakan mencapai 191 terdiri dari 136 di bidang pabean dan 55 bidang cukai," ucapnya dalam acara yang dihadiri ratusan aparat tingkat kecamatan dan desa di eks wilayah pembantu Bupati di Kepanjen.

Perkiraan kerugian negara dari adanya pelanggaran bea dan cukai sampai September 2019 mencapai Rp 4.231.352.634. Dimana dari data Direktorat Bea Cukai Malang, kerugian negara itu berasal dari hasil tembakau (HT) 8.828.616 batang, liquid Vape 182 botol, minuman etik alkohol (MMEA) 5.233 botol dan tembakau iris (TIS) mencapai 4,9 batang.

"Dari hasil penindakan itu diperkirakan membuat negara rugi mencapai Rp 4,2 miliar," ujar Surjaningsih.

Di tahun 2018 lalu, penindakan bea cukai Malang mencapai 195 lebih tinggi dibandingkan tahun 2019. Tapi dari nilai kerugian negara di tahun 2018 hanya mencapai Rp 2.440.562.413. Atau naik di tahun 2019 mencapai sekitar 73 persennya.

Hal ini masih menurut Surjaningsih dikarenakan barang kena cukai yang ditindak di tahun 2019 sampai bulan September lebih banyak secara kuantitasnya dibandingkan 2018 lalu.
Misalnya, HT yang ditindak hanya sebanyak 5.086.182 batang, MMEA berhasil diamankan oleh petugas sebanyak 3.293 botol. Sedangkan TIS mencapai 15,3 juta batang tanpa ada tindakan terhadap liquid Vape yang di tahun 2019 mencapai 182 botol.

Berbagai tindakan petugas bea dan cukai Malang ini, bila dilihat dari rincian realisasi penerimaan negara di tahun 2018 dan 2019, mengalami kenaikan sekitar 8,76 persen. Yakni di September 2018 lalu penerimaan negara mencapai Rp 11.900.347.446.220 sedangkan 2019 mencapai Rp 12.943.520.939.059.

Kenaikan yang terbilang kecil ini juga dipicu dengan adanya realiasi yang menurun sejak Juni sampai September dibandingkan dengan 2018 lalu. Di bulan Juni, misalnya realisasi penerimaan negara mencapai Rp 1.426.944.097.400 tapi di bulan yang tahun 2019 hanya Rp 1.339.310.372.905 atau turun 6,14 persen.

Bulan berikutnya pun sama, dimana realisasi penerimaan negara mengalami penurunan dari 5- 20 persen dibandingkan tahun 2018 lalu.
Kondisi inilah yang membuat Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang Didik Budi Muljono, mendorong agar dalam proses pengawasan barang kena cukai, aparat desa pun ikut aktif di dalamnya.

"Kita awasi bersama sampai tingkat desa. Bila ditemukan adanya barang kena cukai yang dilanggar segera koordinasikan dengan kecamatan. Ini saya pikir akan semakin menguatkan proses pengawasan dan penyebaran barang ilegal," ujarnya.

Dalam melaksanakan harapan agar wilayah Kabupaten Malang bisa meminimalisir angka pelanggaran bea cukai. Pemkab Malang akan mengintensifkan kegiatan sosialisasi terkait barang kena cukai di wilayah perdesaan.

"Kita kuatkan dulu pemahaman terkait itu pada perangkat desa. Walaupun mereka mungkin sudah paham, tapi perlu untuk terus dikuatkan lagi dengan masih tingginya angka pelanggaran bea cukai ini," pungkas Didik Budi.