Narasumber dari berbagai negara saat sesi foro bersama usai penutupan Festival HAM Internasional 2019. (foto : istimewa / Jatim TIMES)
Narasumber dari berbagai negara saat sesi foro bersama usai penutupan Festival HAM Internasional 2019. (foto : istimewa / Jatim TIMES)

Festival HAM Internasional 2019 di Jember telah berakhir secara seremonial. Namun rangkaian kegiatan masih dilanjutkan pada hari ketiga Kamis (21/11/2019), yakni melakukan kunjungan ke Kampung Tanoker di Ledokombo dan mengunjungi Desbumi di Desa Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember.

Tidak hanya itu. Narasumber dan beberapa peserta juga akan mengunjungi sejumlah destinasi wisata yang ada di Jember sebelum kembali ke daerah asalnya. Mereka antara lain mengunjungi pusat penelitian kopi dan kakao di Kebun Renteng, Jenggawah, dan malamnya akan menggelar gala-diner di Pantai Papuma Jember.

“Ada banyak yang dihasilkan dari festival HAM di Jember. Di antaranya pemerintah lebih mendengar keinginan masyarakat yang bisa dilakukan bersama sehari-hari. Selain itu, ada semangat bersama antara pemerintah kabupaten dan kota dengan para aktivis HAM. Yakni sama-sama bersemangat untuk menyelenggarakan pemerintahan berbasis HAM dan mengimplementasikan di kehidupan sehari-hari,” ujar Bupati Jember dr Faida MMR.

Bupati juga  akan mengupayakan rekomendasi dari anak-anak tentang kurikulum nasional. “Karena wewenangnya di pusat, saya akan berusaha mengantar anak-anak untuk menyampaikan sendiri rekomendasinya tentang kurikulum nasional kepada menteri pendidikan RI,” katanya.

Menurut bupati, Festival HAM Internasional 2019 di Jember melibatkan partisipasi dari lebih 1.000 peserta. Bahkan ada 500 anak-anak yang tergabung dalam kegiatan forum anak. “Dalam forum ini, anak-anak dibagi dalam lima kelompok dan masing-masing kelompok memberikan rekomendasinya,” terang dia.

Rekomendasi tersebut sebagian besar bisa ditindaklanjuti di Jember. Namun, ada rekomendasi yang tidak selesai di Jember. “Mereka ingin punya banyak waktu dan tidak ingin hidup stres dan tertekan. Mereka ingin kurikulum 13 ada evaluasi dari pemerintah pusat,” kata bupati.

Menindaklanjuti rekomendasi itu, Faida berjanji mengantarkan anak-anak untuk menyampaikan rekomendasi itu langsung kepada menteri pendidikan.

Rekomendasi lainnya, anak-anak ingin lebih banyak peluang kerja bagi orang tua mereka sehingga tidak menjadi buruh migran. Dengan demikian, anak-anak bisa bertemu orang tua setiap saat.

Mereka ingin mendapatkan perlindungan dari bullying di sekolahnya. Mereka juga ingin kegiatan ekstrakurikuler disetarakan, baik sekolah yang di kota maupun di pelosok. “Jadi, tidak ada lagi sekolah favorit karena ekstrakurikulernya lebih lengkap,” imbuh bupati.

Anak-anak ingin fasilitas publik di Jember lebih ramah difabel. Hal ini menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Jember untuk mewujudkan keinginan ini.

Dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa (musrembangdes), lanjut bupati, sudah ada instruksi untuk juga melibatkan anak-anak. Bupati menegaskan, keinginan dan kebutuhan anak-anak tidak bisa dimengerti kecuali oleh mereka sendiri. Karena itu, rekomendasi mereka adalah ingin terlibat dalam musrenbangdes.

“Jadi, mumpung ada 161 kepala desa yang baru. Dengan mengikuti kegiatan HAM, para kepala desa diharapkan dapat lebih memahami hak anak dan bisa memberikan kesempatan dalam musrembangdes bersama anak-anak,” tutur bupati.