Sang Buddha Piano (Ist)
Sang Buddha Piano (Ist)

Zasliai (sekarang Lithuania),13 Februari 1870 silam, sosok yang dijuluki Buddha Piano dilahirkan dari pasangan Mordkhel Godowsky (1848-1872) dan Khana-Sheyna Godowsky (1848-1919). Diberi nama Leopold Godowsky (1870-1938), kehidupannya dipenuhi warna.

Lahir dari seorang ayah berprofesi feldsher (praktisi medis, menurut Kamus Merriam-Webster.com) yang disegani. Godowsky kecil tentunya masuk di lingkaran 'ningrat' pada zamannya. Hingga usia 1,5 tahun, ayahnya meninggal dalam wabah kolera.

Dalam pengasuhan ibu dan orang tua angkatnya, Louis dan Minna Passinock, bakat Godowsky terhadap musik, khususnya piano dan biola, tumbuh mencengangkan. 

Di usia kesembilan, Godowsky telah menggebrak dunia musik melalui konser pertamanya yang dilanjut dengan tur ke seluruh Lithuania dan Prusia Timur.

Godowsky dalam otobiografinya berjudul Retrospeksi, menyampaikan, "...Saya memiliki pengalaman yang luar biasa, dan ini mungkin terjadi. Saya tidak ingat apakah ada yang mengajari saya nilai dan makna catatan dan penggunaan jari-jari keyboard, atau apakah saya memperoleh pengetahuan saya secara otodidak, tetapi saya ingat bahwa saya tidak mendapat bantuan sejak tahun kelima saya," tulisnya seperti yang juga dicatat dalam berbagai  buku biografi Leopold Godowsky.

Sejak itu, Godowsky mengembangkan sayapnya. Berlin, Amerika Serikat, Paris, London menjadi rumahnya memainkan jemari ajaibnya di tuts-tuts piano. 

Karya-karya besarnya, yang disebut Ferruccio Busoni, komponis dan pianist Italia sebagai satu-satunya komposer yang menambahkan sesuatu yang penting bagi penulisan keyboard sejak Franz Liszt.

Java Suite, Triakontameron, Passacaglia dan Walzermasken, Studies on Chopin's Etudes, serta transkripsi karyanya oleh komposer lain telah menjadikan Godowsky sebagai Buddha Piano, raksasa musik yang kehadirannya paling menakjubkan dalam sejarah seni. Tentunya dengan berbagai kepahitan hidupnya sampai akhir hayat.

Walau tak sama dengan kehidupan Sidharta Gautama yang hidup bergelimang kekayaan dunia pada awalnya sampai menempa dirinya dalam pengembaraan mencari pencerahan sempurna.

Sang Buddha Piano pun di masa gemilangnya mengalami perjalanan kehidupan yang pahit. Istri yang sakit parah dan akhirnya meninggal dunia, keuangan yang memburuk dan stroke yang melumpuhkannya. Ditambah dengan putranya Gordon yang bunuh diri, membuat tahun-tahun akhir kehidupannya di New York, semakin kelam.

Sebelum akhirnya kanker perut mengakhiri hidup sang Buddha Piano, 21 November 1938, diusia 68 tahun.

Lantas apa hubungan sang Buddha Piano dengan para monyet liar di danau suci atau keramat Wendit, Pakis, Kabupaten Malang?

Para monyet yang hidup bebas, berceloteh riang, serta begitu bebasnya meloncat dari satu pohon ke pohon lain hingga berlarian di wilayah dengan danau Wendit yang memiliki sejarah panjang di era kerajaan Jawa. 

Diyakini dibangun pada masa kerajaan Mataram di abad 10, dan dikembangkan masa Majapahit di abad ke 14. Petirtan yang bernama kuno Bureng ini tak hanya indah dengan kejernihan air dan lingkungan yang jadi domisili para monyet sampai saat ini.

Tapi, juga dikenal dengan kesakralan atau kesuciannya. Kembali, jejak sejarah para raja, seperti Raden Wijaya pendiri Majapahit hingga Hanyam Wuruk menjadikan petirtan Wendit sebagai tempat semedinya. 

Kesakralan ini pula yang hingga kini tetap terpelihara dengan berbagai ritual, seperti Grebek Tirto Aji, Jamasan, Bersih Desa dan lainnya yang menjadikan air sumber Wendit sebagai medium 'tolak bala'. 

Dipercaya masyarakat sampai kini, air sumber Wendit berasal dari sumber mata air empat gunung. Yakni, Gunung Arjuno, Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Kawi.

Wendit menjadi lokasi pertemuan air yang mengalir dari empat gunung itu dan dianggap suci dan penuh berkah.

Berbagai jejak itu pula yang membuat perjalanan sang Buddha Piano ke Jawa pun akhirnya sampai ke Wendit yang ramai dengan celoteh liar para monyet dan sakralnya danau Wendit yang menyihirnya. 

Lahirlah 'Chattering Monkeys at the Sacred Lake of Wendit' sebagai pengalaman batin Godowsky dalam persuaannya dengan ratusan monyet Wendit.

Chattering Monkeys at the Sacred Lake of Wendit, masuk dalam part two dikarya eksperimental Godowsky yang diberi judul Java Suite (Phonoramas, 1925). 

Karya sang Buddha Piano yang dipengaruhi kentalnya gamelan Jawa dan eksotisme serta kesakralan berbagai tempat yang dikunjunginya. 

Java Suite yang memiliki empat part, yakni di part one ada Gamelan, Wayang-Purwa, Puppet Shadow Plays, dan Hari Besaar, The Great Day. 

Di part two ada Chattering Monkeys at the Sacred Lake of Wendit, Boro Budur in Moonlight, dan The Bromo Volcano and the Sand Sea at Daybreak.

Part Three berisikan Three Dances, The Gardens of Buitenzorg dan  In the Streets of Old Batavia, sedangkan part four ada In the Kraton, The Ruined Water Castle at Djokja, serta A Court Pageant in Solo. Telah melengkapi perjalanan sang Buddha Piano sebagai salah satu maestro musik yang karyanya masih mengalun sampai kini.