Dua orang tersangka (baju tahanan oranye) saat sesi rilis karena menerima paketan narkoba yang dikirim dari jasa ekspedisi (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Dua orang tersangka (baju tahanan oranye) saat sesi rilis karena menerima paketan narkoba yang dikirim dari jasa ekspedisi (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Dari 19 kasus dan 22 orang tersangka yang diringkus anggota Unit Satreskoba Polres Malang pada sesi rilis hari ini (Kamis 27/2/2020). Dua orang tersangka di antaranya merupakan pelaku yang telibat jaringan pemasok narkoba.

Tidak tanggung-tanggung, saat diamankan polisi kedua tersangka yang diketahui berinisial FN alias Kancil (36) warga Kecamatan Junrejo, Kota Batu dan FB alias Precil (28) warga Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang ini kedatapan membawa narkoba jenis ganja dan sabu dalam jumlah yang banyak.

”Dari tangan kedua tersangka, petugas menyita barang bukti berupa 2,204 kilogram ganja dan 294,07 gram sabu,” jelas Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar, Kamis (27/2/2020).

Menurut Hendri, terungkapnya kasus jaringan pemasok narkoba ini bermula dari upaya penyidik dan pengembangan kasus yang sebelumnya berhasil diungkap anggota Satreskoba Polres Malang.

Dari keterangan beberapa tersangka yang sebelumnya sudah diamankan tersebut, mereka mengaku jika mendapatkan pasokan dari tersangka Kancil dan Pretcil.

Berawal dari kesaksian inilah, anggota korps berseragam coklat ini akhirnya dikerahkan untuk melakukan penyelidikan. Hasilnya, polisi mendapat informasi jika kedua tersangka selama ini bersembunyi di rumah kos yang berlokasi di Desa Donorawih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

”Saat kami geledah di lokasi pengerebekan, petugas mendapati barang bukti berupa 8 poket ganja dengan berat total 2,204 kilogram, 8 poket sabu seberat hampir 300 gram, seperangkat alat hisab, dua timbangan elektrik, dan dua unit HP (handphone) untuk berinteraksi dengan pemasok dan pengedarnya,” jelas Hendri.

Dari pengakuan kedua tersangka, lanjut Hendri, Kancil dan Precil bertugas mengambil dan menyerahkan kepada para pengedar untuk menjualkan barang laknat tersebut.

”Selain menggunakan sistim ranjau, pasokan ganja dan sabu ini juga dikirim oleh bandar melalui jasa ekspedisi pengiriman barang,” ungkap Hendri yang juga pernah menjabat sebagai Kasubbagbungkol Spripim Polri ini.

Berdasarkan informasi yang diperoleh wartawan, sang bandar yang selama ini memasok narkoba kepada kedua tersangka berinisial R. Dimana, saat mengirimkan pasokan narkoba, R akan menyamarkan barang haram tersebut sebelum akhirnya dikirim melalui jasa ekspedisi.

”Modus para pelaku adalah dengan menyamarkan dan mengemasnya sedemikian rupa agar tidak diketahui oleh petugas jasa pengiriman barang. Biasanya akan dimasukkan ke kemasan makanan dan barang lainnya,” terang Hendri.

Berawal dari pengakuan inilah, polisi akan mengembangkan kasusnya dan memburu keberadaan sang bandar yang diketahui berinisial R tersebut. ”Terhadap kedua tersangka kami jerat dengan pasal 114 ayat 2 subsider pasal 112 ayat 2 dan pasal 111 ayat 2 Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Sedangkan ancamannya maksimal 20 tahun kurungan penjara,” tegas Hendri.